MEDIAMINANG.COM – Pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Aceh terus menunjukkan perkembangan positif dan kini bersiap memasuki tahap rekonstruksi permanen.
Kepala Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PPR) Aceh, Safrizal ZA, menyampaikan bahwa rencana induk (renduk) rehabilitasi dan rekonstruksi telah memasuki tahap final dan akan menjadi acuan utama pembangunan kembali wilayah terdampak.
“Dasar rencana induk lah yang dijadikan dasar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi secara permanen,” ujarnya usai kegiatan media gathering di Aceh Besar, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, berbagai sektor layanan publik telah mengalami pemulihan signifikan. Dari 18 kabupaten/kota terdampak, sebanyak 10 daerah telah kembali menjalankan fungsi pemerintahan secara normal.
Selain itu, proses pembersihan lumpur telah mencapai 92 persen, sementara pembangunan infrastruktur darurat seperti jembatan juga menunjukkan progres tinggi, dengan 97 unit diselesaikan oleh TNI dan 95 persen target oleh Polri.
Di sektor kesehatan, seluruh 23 RSUD dan 309 puskesmas telah kembali beroperasi, serta hampir seluruh puskesmas pembantu juga sudah aktif. Sementara itu, sebanyak 3.120 sekolah terdampak telah kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Pada sektor hunian, pembangunan hunian sementara (huntara) telah mencapai 91 persen, sedangkan hunian tetap (huntap) mulai direalisasikan dengan dukungan berbagai pihak.
Safrizal menekankan bahwa perkembangan pemulihan bersifat dinamis dan terus berubah mengikuti kondisi di lapangan.
“Data progres selalu bergerak mengikuti dinamika lapangan. Ada infrastruktur yang sudah selesai, namun bisa kembali rusak dan diperbaiki lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini pemulihan masih berada pada tahap darurat dan transisi, dengan fokus utama memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Rekonstruksi permanen akan dimulai setelah rencana induk mendapat persetujuan dan pengesahan dari pemerintah pusat.
Berdasarkan evaluasi terbaru, penanganan darurat dan masa transisi dinilai berjalan baik dengan berbagai capaian signifikan di sektor pemerintahan, layanan publik, pendidikan, sosial, hingga penyediaan hunian.
Meski demikian, Safrizal menegaskan bahwa proses pemulihan masih panjang dan membutuhkan kerja berkelanjutan.
“Pekerjaan belum selesai. Ini baru tahap masa transisi,” ujarnya.
Diketahui, bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera pada akhir 2025 berdampak pada 18 kabupaten/kota di Aceh serta menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sebanyak 780 orang meninggal dunia dan 564 lainnya dinyatakan hilang akibat bencana tersebut.
Sumber: Serambi Indonesia
