Aktivitas Gunung Marapi di Sumbar Masih Fluktuaktif, Tercatat 5 Kali Erupsi pada Akhir Februari 2026

MEDIAMINANG.COM – Aktivitas Gunung Marapi di Sumatera Barat masih menunjukkan perubahan yang naik turun, meskipun secara umum belum terlihat adanya peningkatan aktivitas yang signifikan.

Berdasarkan hasil evaluasi pemantauan Badan Geologi pada periode 16 hingga 28 Februari 2026, status gunung yang berada di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar tersebut masih berada pada Level II atau Waspada.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa aktivitas visual Gunung Marapi selama dua minggu terakhir justru mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Dari pengamatan visual, terlihat asap dari kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang, serta ketinggian sekitar 50 hingga 200 meter dari puncak.

Walaupun aktivitas visual cenderung menurun, aktivitas kegempaan masih terus terdeteksi selama masa pengamatan tersebut. Data seismik menunjukkan adanya berbagai jenis gempa yang berkaitan dengan aktivitas di dalam gunung api.

Dalam periode itu tercatat 5 kali gempa letusan atau erupsi, 148 gempa hembusan, 130 tremor non-harmonik, 8 gempa low frequency, 5 gempa vulkanik dangkal, 14 gempa vulkanik dalam, 23 gempa tektonik lokal, serta 46 gempa tektonik jauh.

Selain itu, tremor menerus juga terpantau dengan amplitudo berkisar antara 0,5 hingga 4 milimeter, dengan nilai dominan sekitar 2 milimeter.

Menurut Lana Saria, meskipun aktivitas gempa masih terjadi, hasil pemantauan belum menunjukkan adanya peningkatan suplai magma baru dari kedalaman bumi. Bahkan, data deformasi dari alat tiltmeter menunjukkan kecenderungan deflasi atau penurunan tekanan pada tubuh gunung.

Kondisi tersebut menandakan bahwa belum terjadi pengisian magma baru secara signifikan. Namun demikian, potensi erupsi berskala kecil hingga menengah masih mungkin terjadi, terutama di sekitar kawasan kawah.

Selama belum ada peningkatan suplai magma yang besar, potensi bahaya yang mungkin terjadi diperkirakan berupa lontaran material pijar dan abu vulkanik yang berpotensi menjangkau radius sekitar 3 kilometer dari Kawah Verbeek.

Jika erupsi terjadi, abu vulkanik berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat, khususnya pada saluran pernapasan, serta dapat memengaruhi aktivitas penerbangan tergantung arah dan kecepatan angin.

Selain itu, material erupsi yang bercampur dengan air hujan juga berpotensi menimbulkan banjir lahar di sejumlah aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi.

Sumber: Tribun Padang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *