Pelemahan Rupiah Dekati Rp17.380 per Dolar AS, Ekonom Soroti Dampaknya bagi UMKM Sumbar

MEDIAMINANG.COM – Nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.380 per dolar Amerika Serikat dinilai dapat memberikan dampak terhadap perekonomian daerah, termasuk pelaku UMKM di Sumatera Barat.

Pakar Ekonomi Universitas Andalas, Prof. Syafruddin Karimi, menilai pelemahan rupiah saat ini bukan lagi sekadar fluktuasi musiman, melainkan sudah mengarah pada tekanan struktural yang perlu diantisipasi.

Data LSEG per 6 Mei 2026 menunjukkan nilai tukar USD/IDR berada di kisaran Rp17.360 hingga Rp17.380 per dolar AS.

“Kondisi ini berbeda dengan depresiasi musiman yang biasanya dipicu oleh kebutuhan valas jangka pendek seperti pembayaran dividen atau impor energi. Saat ini, rupiah tetap melemah meski indikator fundamental lain seperti IHSG, CDS, dan yield obligasi 10 tahun relatif stabil,” ujar Syafruddin, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor seperti penguatan dolar AS, kebutuhan lindung nilai korporasi, hingga meningkatnya persepsi risiko domestik.

Meski demikian, Syafruddin menilai Indonesia belum berada dalam kondisi krisis nilai tukar.

Ia menyebut cadangan devisa Indonesia yang masih berada di angka US$148,2 miliar serta pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional.

Namun, ia mengingatkan kemungkinan rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS tetap perlu diwaspadai.

“Jika level tertinggi tahun ini di Rp17.445 terlampaui secara konsisten dengan volume tinggi, pasar akan mulai menguji level Rp17.700 hingga akhirnya ke Rp18.000. Pemerintah dan Bank Indonesia harus mencegah pemicunya, terutama arus keluar modal asing dari SBN dan pelebaran defisit fiskal,” tambahnya.

Menurut Syafruddin, dampak pelemahan rupiah akan terasa melalui kenaikan harga barang impor atau imported inflation.

Di Sumatera Barat, sektor perdagangan, transportasi, konstruksi, hingga UMKM yang menggunakan bahan baku impor dinilai menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Ia juga menyoroti potensi kenaikan biaya logistik serta harga sejumlah barang seperti alat elektronik, suku cadang kendaraan, dan bahan pangan olahan.

Sumber: Tribun Padang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *