Tarif Travel dan BBM Picu Inflasi Sumbar Maret 2026, Daging Ayam Ras Jadi Penyumbang Utama

MEDIAMINANG.COM – Laju inflasi di Sumatera Barat pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,04 persen secara bulanan (month to month/m-to-m).

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan harga sejumlah komoditas menjadi pemicu utama inflasi, terutama daging ayam ras, tarif kendaraan travel, serta harga bensin.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 0,19 persen dan andil sebesar 0,06 persen. Dalam kelompok ini, daging ayam ras tercatat sebagai komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga.

Selain itu, sektor transportasi juga memberikan kontribusi terhadap inflasi. Kenaikan tarif perjalanan darat, termasuk jasa travel antarkota dan kendaraan sewa, turut meningkatkan beban pengeluaran masyarakat.

Beberapa komoditas lain yang ikut menyumbang inflasi antara lain ikan tongkol, jengkol, minyak goreng, telur ayam ras, serta udang basah.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi. Komoditas tersebut meliputi cabai merah, tomat, bawang merah, cabai rawit, hingga tarif angkutan udara.

Secara tahunan (year on year/y-on-y), inflasi di Sumatera Barat pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,49.

Kenaikan inflasi tahunan dipicu oleh peningkatan harga pada berbagai kelompok pengeluaran, seperti makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,20 persen, perumahan dan utilitas sebesar 4,50 persen, serta transportasi sebesar 3,01 persen.

Sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, beras, mobil, serta sigaret kretek mesin.

Namun demikian, beberapa komoditas juga memberikan kontribusi deflasi secara tahunan, di antaranya cabai merah, kentang, bawang putih, bensin, sabun cuci piring, popok bayi sekali pakai, kelapa, bawang merah, dan telepon seluler.

BPS juga mencatat adanya perbedaan tingkat inflasi di sejumlah daerah. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,44 persen, diikuti Bukittinggi sebesar 0,16 persen.

Sementara itu, Pasaman Barat dan Padang justru mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,02 persen.

Untuk inflasi tahunan, Bukittinggi mencatat angka tertinggi sebesar 4,32 persen, sedangkan Pasaman Barat menjadi yang terendah dengan 2,74 persen.

Secara kumulatif tahun kalender (year to date/y-to-d), Sumatera Barat masih mencatat deflasi sebesar 0,82 persen hingga Maret 2026.

Kondisi ini menunjukkan dinamika harga yang masih fluktuatif, dengan tekanan inflasi terutama berasal dari sektor transportasi dan bahan pangan, khususnya daging ayam ras.

Sumber: Tribun Padang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *